Perkuat Identitas SPNF, Kemendikdasmen Dorong Transformasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial
Bogor, 8 Juni 2026 – Penguatan kualitas pendidikan nonformal memerlukan strategi yang berangkat dari pemahaman mendalam terhadap karakteristik dan kebutuhan setiap satuan pendidikan. Menyadari pentingnya hal tersebut, Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan Lokakarya Pendampingan Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial (PM-KKA): Penguatan Identitas dan Strategi Pengembangan SPNF Tahun 2026.
Kegiatan ini diikuti 29 SPNF Sekolah Model yang menjadi langkah awal dalam membangun fondasi transformasi pembelajaran yang kontekstual, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan pendidikan nonformal di seluruh Indonesia.
Direktur PNFI, I Gusti Made Ardana menegaskan bahwa keberhasilan implementasi PM-KKA di SPNF tidak ditentukan oleh keseragaman program, melainkan oleh kemampuan setiap satuan pendidikan memahami karakteristik dan kebutuhan unik yang dimilikinya. "Melalui lokakarya ini, kami ingin membantu setiap SPNF mengenali identitas, kekuatan, tantangan, dan kebutuhan pengembangannya masing-masing,” ujar Direktur.

PM-KKA, lanjutnya, bukan sekadar program yang dijalankan, tetapi menjadi strategi transformasi satuan pendidikan yang berangkat dari konteks nyata warga belajar dan masyarakat yang dilayani. “Dengan memahami dirinya sendiri, setiap SPNF dapat merumuskan arah pengembangan yang lebih tepat, relevan, dan berkelanjutan untuk mewujudkan keunggulan belajar murid, keunggulan mengajar pendidik, serta keunggulan kepemimpinan kepala satuan pendidikan," imbuh Made.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin menegaskan bahwa keberhasilan implementasi PM-KKA pada SPNF harus dibangun di atas pemahaman yang kuat terhadap karakteristik, kebutuhan, dan potensi masing-masing satuan pendidikan. “Transformasi pendidikan tidak dimulai dari program atau bantuan yang diberikan, melainkan dari kemampuan satuan pendidikan untuk mengenali kondisi awal, memahami peserta didik yang dilayani, serta merumuskan arah pengembangan yang paling sesuai dengan konteks dan tantangan yang dihadapi,” ucap Tatang.

“Karena itu, lokakarya ini menjadi tahapan penting untuk membantu SPNF membangun fondasi perubahan yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi peningkatan mutu layanan pendidikan,” tandasnya.
Yekti Wulancahyani, Kepala PKBM Homeschooling Primagama Denpasar sebagai salah satu peserta lokakarya mengatakan sangat antusias dengan pelaksanaan program ini. “Kami belajar banyak tentang pelaksaan pembelajaran mendalam di sekolah,” ucap Yekti
“dari kegiatan semakin menguatkan identifikasi lembaga yang saya pimpin.” tutupnya.
Lokakarya ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam mendorong transformasi pendidikan nonformal yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan belajar masyarakat. (Hms/Na/Rob)