Belajar Tanpa Batas, Inovasi Pendidikan di PKBM Permata Unggul
Sleman, Ditjen Diksi PKPLK – Di tengah kebutuhan masyarakat akan akses pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Permata Unggul, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bagaimana pendidikan kesetaraan dapat dikelola secara inovatif, relevan, dan berorientasi pada kompetensi nyata peserta didik.
Sebagai satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program Paket A, Paket B, dan Paket C, PKBM Permata Unggul tidak memaknai proses belajar sebatas pemenuhan kurikulum dan perolehan ijazah. Lembaga ini menghadirkan sistem pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, serta memanfaatkan teknologi untuk memastikan setiap warga belajar tetap dapat mengakses pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Kepala PKBM Permata Unggul, Arif Ginanjar Kurniawan, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan tiga model pembelajaran, yaitu tatap muka, mandiri, dan tutorial dengan pendekatan pembelajaran kontekstual. Sistem tatap muka dikembangkan melalui blended learning, di mana sebagian peserta didik hadir langsung di kelas, sementara sebagian lainnya mengikuti pembelajaran secara daring.
“Bagi peserta didik, hadir setiap hari tentu tidak mudah. Karena itu, blended learning memberi ruang fleksibilitas agar mereka tetap aktif belajar meskipun dengan jadwal berbeda,” ujarnya.
Pendekatan ini diperkuat dengan keberadaan learning management system (LMS) berbasis website yang dikembangkan secara mandiri oleh PKBM Permata Unggul. Melalui sistem terintegrasi ini, peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran, presensi, tugas, hingga jadwal belajar dalam satu platform yang mudah diakses.

“Semua lebih mudah, lebih cepat, dan lebih praktis,” tambah Arif.
Tidak berhenti pada inovasi sistem pembelajaran, PKBM Permata Unggul juga menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman melalui project based learning (PBL) yang dilaksanakan setiap semester. Pembimbing PBL, Andri Windoko, menyampaikan bahwa peserta didik didorong untuk menghasilkan karya nyata sebagai hasil dari proses belajar.
“Tahun 2025, peserta didik kami menghasilkan 165 karya yang dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta dengan tema ekonomi kreatif, seni, teknologi, dan riset sosial. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi benar-benar membuat karya dari buah pikiran mereka sendiri,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, peserta didik dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan belajar dari pengalaman langsung. Pameran karya menjadi ruang apresiasi sekaligus pembuktian bahwa pendidikan kesetaraan mampu melahirkan produk-produk yang bernilai.
Penguatan pembelajaran kontekstual juga diwujudkan melalui kegiatan outing class yang secara rutin dilaksanakan. Ketua Bidang Akademik dan Kesiswaan PKBM Permata Unggul, Sri Widari, menyebutkan bahwa dalam satu bulan rata-rata terdapat tujuh kegiatan kunjungan pembelajaran ke berbagai tempat seperti museum, galeri seni, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Bea Cukai.
“Dengan kegiatan ini pembelajaran jadi lebih nyata dan menyenangkan. Peserta bisa langsung melihat penerapan ilmu di lapangan, jadi tidak hanya menerima teori saja,” tuturnya.
Berbagai praktik baik ini menunjukkan bahwa PKBM Permata Unggul telah mengembangkan ekosistem belajar yang memadukan fleksibilitas, teknologi, kreativitas, dan pengalaman nyata. Dari ruang belajar nonformal inilah tumbuh model pendidikan kesetaraan yang tidak hanya membuka akses, tetapi juga menyiapkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri, terampil, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
PKBM Permata Unggul menjadi contoh bahwa pendidikan kesetaraan, ketika dikelola dengan inovasi dan komitmen, mampu menghadirkan kualitas pembelajaran yang setara bahkan melampaui batas-batas pembelajaran konvensional. (Esha/NA/AS)