Kemendikdasmen Ajak Partisipasi Semesta Perkuat Peran PNFI melalui Simposium Nasional 2026
Jakarta, Ditjen Diksi PKPLK – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) akan menyelenggarakan Simposium Nasional PNFI 2026 pada bulan Mei 2026 mendatang di Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran pendidikan nonformal dan pendidikan informal dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Simposium ini akan mengusung tema “Peran Pendidikan Nonformal dan Informal dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema ini merefleksikan arah kebijakan pendidikan nasional yang menempatkan pembelajaran sebagai proses yang tidak terbatas pada jalur formal semata, serta sejalan dengan agenda pembangunan pendidikan nasional dan global dalam menjamin hak belajar sepanjang hayat bagi setiap warga negara.
Pendidikan tidak lagi dipandang semata sebagai proses yang berlangsung di ruang kelas, tetapi sebagai proses belajar sepanjang hayat yang terjadi di berbagai ruang kehidupan. Sejalan dengan paradigma “learning not schooling”, pembelajaran dipahami sebagai proses yang berlangsung secara fleksibel di keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial lainnya. Dalam konteks ini, PNFI hadir sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang menjangkau masyarakat secara lebih luas, terutama kelompok yang belum terlayani pendidikan formal, termasuk Anak Tidak Sekolah (ATS), masyarakat dewasa, serta kelompok rentan lainnya.
Rangkaian kegiatan simposium meliputi sesi pleno, pemaparan narasumber kunci, serta forum tematik yang mengangkat praktik baik dari berbagai daerah. Forum ini juga dirancang sebagai ruang berbagi pengetahuan berbasis pengalaman (evidence-informed practices) yang diharapkan dapat memperkaya perumusan kebijakan dan penguatan implementasi program PNFI di tingkat pusat dan daerah. Tiga subtema utama yang akan dibahas mencakup dukungan PNFI terhadap program wajib belajar, penguatan partisipasi semesta, serta peran keluarga dan komunitas sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat.

Direktur PNFI, Baharudin, dalam agenda Sosialisasi Persiapan Simposium Nasional PNFI, Kamis (2/4) menegaskan bahwa simposium ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat posisi PNFI dalam arsitektur pendidikan nasional sekaligus mendorong transformasi pembelajaran sepanjang hayat.
“Simposium ini diselenggarakan sebagai forum advokasi, refleksi, dan konsolidasi nasional untuk memperkuat posisi PNFI dalam kerangka pendidikan nasional dan agenda pendidikan sepanjang hayat. Forum ini diharapkan para pemangku kepentingan dapat memperdalam isu-isu strategis, berbagi praktik baik, serta merumuskan arah transformasi PNFI ke depan dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” terangnya.
Ia turut mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam call for papers yang menjadi bagian dari rangkaian simposium.
“Kami memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi bapak-ibu semua untuk mengajukan makalah, terutama yang mengangkat pengalaman nyata, inovasi, dan praktik baik yang telah diimplementasikan di lapangan. Makalah tersebut dapat menjadi dasar empiris dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan nonformal dan informal,” tambahnya.
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Ananto Kusuma Seta, dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa pemilihan waktu penyelenggaraan simposium pada bulan Mei memiliki makna strategis sekaligus simbolik, karena terkait dengan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Ia juga mengingatkan bahwa forum ini hadir dalam konteks global yang menuntut percepatan capaian target pembangunan pendidikan.
“Kita tidak punya waktu banyak menuju target Sustainable Development Goals 2030. Forum ini menjadi momen penting untuk melakukan konsolidasi, berbagi praktik baik, dan mempercepat pembangunan pendidikan melalui peran PNFI,” lanjutnya.

Menurutnya, pelaksanaan simposium dipilih secara sadar untuk menegaskan pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman. Agar pemangku kepentingan pendidikan, khususnya PNFI, dapat saling mendengarkan berbagai perspektif dan saling memanen pengalaman yang kemudian dapat menjadi pembelajaran bersama dalam memperkuat PNFI ke depan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa bahwa penyelenggaraan simposium PNFI akan menjadi penanda penting untuk upaya menata ekosistem PNFI yang lebih inklusif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“PNFI bukan sekedar instrumen pelengkap, tetapi pilar strategis dalam memastikan seluruh warga negara mendapatkan akses pendidikan layak dan bermutu,” terangnya.
Simposium Nasional PNFI dirancang sebagai ruang bersama yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga menjadi wahana advokasi kebijakan dan konsolidasi nasional. Kegiatan ini direncanakan akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, hingga pengelola satuan pendidikan nonformal serta mitra pembangunan internasional. Melalui keterlibatan multipihak tersebut, simposium ini diharapkan dapat memperkuat semangat kolektif dalam mendorong kebangkitan peran PNFI sebagai bagian penting dari transformasi PNFI. (Esha/NA/AS)
