Pekalongan, Ditjen Dikmen Diksus – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan terus mengembangkan pembelajaran yang ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus melalui pendekatan berbasis keterampilan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan dengan menggandeng UMKM lokal, Onty Cake & Bakery, untuk menggelar baking class menghias roti abon yang diikuti peserta didik inklusi bersama sejumlah peserta didik reguler di ruang kelas SKB, Selasa (28/7).
Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi SKB menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung perkembangan motorik, kreativitas, dan interaksi sosial peserta didik melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SKB Kota Pekalongan, Lisa Anggraeni, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, sebelum pelaksanaan, SKB bersama Onty Cake & Bakery terlebih dahulu mendiskusikan jenis praktik yang paling aman dan sesuai bagi peserta didik.
"Kegiatan ini bukan membuat roti, melainkan menghias roti abon. Selain melatih kreativitas, anak-anak juga belajar menggunakan tangan secara langsung, mengenal tekstur, serta mengembangkan motorik halus melalui aktivitas sederhana yang menyenangkan," ujarnya.
Menurut Lisa, pemilihan roti abon bukan tanpa alasan. Dibandingkan olahan yang menggunakan banyak cokelat atau susu, media tersebut dinilai lebih aman dan lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik inklusi sehingga mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman.
Antusiasme peserta pun terlihat sejak awal kegiatan. Banyak anak datang lebih awal karena ingin mengikuti pembelajaran yang berbeda dari biasanya. Meski beberapa peserta tidak dapat hadir karena menjalani terapi maupun sakit, kegiatan tetap berlangsung meriah dengan pendampingan guru dan orang tua.
Lisa menambahkan bahwa pembelajaran keterampilan seperti ini menjadi bagian dari komitmen SKB untuk menghadirkan layanan pendidikan nonformal yang inklusif dan berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup (life skills). Melalui pengalaman belajar yang kontekstual, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ke depan, SKB Kota Pekalongan akan terus memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM maupun berbagai mitra di daerah guna menghadirkan pembelajaran berbasis praktik yang semakin beragam.
"Kami ingin membuka lebih banyak ruang kolaborasi agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih kaya. Sinergi dengan UMKM menjadi salah satu cara menghadirkan pembelajaran yang kontekstual sekaligus memperluas manfaat pendidikan nonformal bagi masyarakat," kata Lisa.
Sementara itu, Owner Onty Cake & Bakery Pekalongan, Farah, mengaku senang dapat berbagi pengalaman bersama peserta didik SKB. Menurutnya, baking class tidak hanya mengajarkan keterampilan sederhana, tetapi juga menjadi media untuk membangun interaksi positif antara anak, orang tua, dan pendamping.
"Saya senang melihat kolaborasi anak-anak dengan orang tua selama kegiatan berlangsung. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang mereka. Harapannya, semakin banyak kolaborasi antara SKB dengan UMKM maupun instansi lain sehingga anak-anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar keterampilan baru," ujarnya.
Melalui kolaborasi dengan dunia usaha lokal, SKB Kota Pekalongan menunjukkan bahwa pendidikan nonformal tidak hanya berfokus pada penyampaian materi di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang adaptif, inklusif, dan aplikatif. Kemitraan semacam ini diharapkan semakin memperluas akses pembelajaran keterampilan sekaligus memperkuat peran SKB sebagai ruang belajar sepanjang hayat bagi seluruh lapisan masyarakat. (Esha/NA/AS)