Program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan, Bukti Komitmen Kemendikdasmen dalam Pembelajaran Sepanjang Hayat
Jakarta, 17 Desember 2025. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pembelajaran sepanjang hayat melalui penguatan pendidikan orang dewasa, khususnya bagi kelompok perempuan. Komitmen tersebut tercermin dalam pelaksanaan Program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan, yang ditampilkan dalam kegiatan Gelar Karya Vokasi PKPLK, yang dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin, pada Rabu 17 Desember 2025, di Halaman Kantor dan Gedung A Lantai 1, Kemendikdasmen.
Salah satu bentuk Program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan, yaitu Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, dirancang sebagai upaya strategis untuk memperluas akses pendidikan yang relevan bagi remaja dan perempuan dewasa, terutama mereka yang membutuhkan penguatan keterampilan hidup dan kemandirian ekonomi. Program ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus dan tidak berhenti pada jenjang usia sekolah, melainkan hadir sebagai proses berkelanjutan yang adaptif terhadap kebutuhan kehidupan, keluarga, dan dunia kerja.

Salah satu wujud nyata dari program tersebut ditampilkan melalui booth pameran yang diikuti oleh penerima manfaat bantuan Tahun 2025 dari Provinsi Jawa Tengah, dengan perwakilan dari sembilan kabupaten. Pameran menampilkan berbagai produk hasil pembelajaran, yang di Jawa Tengah berfokus pada keterampilan tata boga, seperti aneka bakery, kue kering, dan produk olahan pangan lainnya.
Ibu Yuli, pengelola PKBM Citra Giri, Kabupaten Wonogiri, menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak signifikan bagi lembaga dan peserta didik. “Manfaatnya bagi lembaga adalah kami bisa melebarkan sayap program, tidak hanya terpaku pada pembelajaran kesetaraan, tetapi juga keterampilan. Pesertanya banyak ibu rumah tangga yang membutuhkan pengembangan kecakapan hidup untuk membuka usaha setelah pelatihan,” ungkapnya.
Program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan dilaksanakan melalui 11 kali pertemuan dengan total 66 jam pelatihan. Materi pembelajaran tidak hanya berfokus pada praktik keterampilan, pengemasan dan pemasaran produk, serta permodalan usaha, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas diri dan kesadaran sosial. Peserta dibekali materi terkait pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, penyadaran kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini menempatkan pendidikan sebagai sarana pemberdayaan yang utuh, yaitu ekonomis, sosial, dan personal.
Pelaksanaan program ini merupakan bagian dari mandat Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) dalam mengembangkan pendidikan orang dewasa sebagai pilar pembelajaran sepanjang hayat. Melalui jalur nonformal dan informal, pemerintah memastikan bahwa warga negara dewasa tetap memiliki kesempatan untuk belajar, meningkatkan kompetensi, memperkuat literasi, serta beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi. Pendidikan orang dewasa dipandang sebagai investasi strategis dalam pembangunan manusia yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Gelar Karya Vokasi PKPLK juga diisi dengan berbagai agenda, antara lain Lokakarya dan Panggung Inovasi Bisnis Vokasi, serta Gelar Wicara yang mengangkat beragam tema. Pameran hasil karya penerima Program Pendidikan Pemberdayaan Remaja dan Perempuan menjadi salah satu daya tarik utama yang menunjukkan keterkaitan langsung antara proses pembelajaran dan hasil nyata yang berdampak pada kehidupan peserta.
Selain pameran, dari Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), rangkaian lokakarya juga diisi oleh berbagai mitra dan satuan pendidikan nonformal, antara lain Forum Komunikasi PKBM, SKB Kota Yogyakarta, PKBM Putra Bangsa, serta Program Relawan Pendidikan. Keterlibatan berbagai pihak ini mencerminkan kuatnya kolaborasi dalam memperluas jangkauan layanan pendidikan nonformal dan informal yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan menjangkau kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan.
