Jakarta Selatan, Ditjen Diksi PKPLK – Di tengah padatnya pemukiman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, sebuah ruang kecil tumbuh menjadi harapan besar bagi anak-anak dan keluarga sekitar. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bukit Duri Bercerita hadir sebagai ruang literasi komunitas yang mendekatkan anak-anak dengan buku sejak usia dini, sekaligus membangun kebiasaan membaca sebagai fondasi masa depan.
TBM Bukit Duri Bercerita didirikan oleh pegiat literasi Suradi (Kak Sur) dan Safrudiningsih (Kak Ning-Nong) pada tahun 2019. Berangkat dari pengalaman personal dan kegelisahan atas minimnya akses bacaan di lingkungan sekitar, keduanya meyakini bahwa literasi merupakan pintu awal bagi anak-anak untuk berani mengimajinasikan masa depan pendidikannya.
“Buku ini barang mewah bagi anak-anak di sekitar sini. Kami ingin membiasakan mereka membaca buku dari usia balita (bawah lima tahun),” ujar Suradi saat ditemui di TBM Bukit Duri Bercerita.
Menurut Suradi, TBM ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang bermain dan berkumpul keluarga. Pada akhir pekan, terutama malam Minggu, TBM kerap dipenuhi anak-anak yang datang bersama orang tuanya.
“Biasanya malam minggu itu banyak anak-anak sama orang tuanya main ke sini. Mereka main sambil megang buku,” tuturnya.
Konsep literasi yang diterapkan di TBM Bukit Duri Bercerita berangkat dari pola pengasuhan yang telah Suradi dan Safrudiningsih praktikkan dalam keluarga mereka sendiri. Sejak anak-anak masih kecil, mereka dibiasakan berinteraksi dengan buku, bahkan sebelum mampu membaca.
“Kalau mereka belum bisa baca, saya kasih buku untuk corat-coret. Jadi telinga dan mata mereka itu terbiasa dengan buku. Menumbuhkan habit bacanya mulai dari situ,” kata Suradi.
Kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten hingga anak-anak tumbuh remaja. Setelah mampu membaca, orang tua menyesuaikan bacaan dengan minat anak, berlangganan majalah anak, dan rutin mengajak mereka ke toko buku.
“Setiap minggu kita ajak ke toko buku. Itu rutin, sampai anak-anak kami SMA itu rutin kita ajak ke toko buku,” ujarnya meyakini bahwa kebiasaan membaca memberi anak-anak harapan dan keberanian untuk memandang masa depan secara lebih luas.
Berbekal pengalaman pengasuhan dan literasi, TBM Bukit Duri Bercerita kemudian dikembangkan sebagai ruang berbagi praktik baik pengasuhan berbasis literasi kepada masyarakat sekitar. Suradi mengakui bahwa role model di TBM Bukit Duri Bercerita adalah dari cara ia menerapkan pola parenting anak-anaknya.
Ia juga mengakui, TBM Bukit Duri Bercerita merupakan wujud rasa syukur keluarga atas capaian pendidikan anak-anak mereka. Berkat bekal literasi yang kuat sejak dini, anak-anak Suradi dan Safrudiningsih berhasil melanjutkan pendidikan tinggi hingga ke luar negeri, bahkan beberapa di antara tiga anaknya memilai sekolah menengah atas di luar negeri.
“TBM ini kami bangun juga sebagai bentuk rasa syukur kami atas pencapaian anak-anak,” ungkapnya.
Suradi menceritakan bahwa seiring berkembangnya TBM, banyak dukungan dari mitra, koleksi buku anak yang dimiliki semakin bertambah. Bahkan, TBM kini kewalahan menerima sumbangan buku dari berbagai pihak. Meski sudah mendapat perhatian luas, Suradi menegaskan bahwa tujuan utama TBM Bukit Duri Bercerita tetap sederhana.
“Kami tidak muluk-muluk, minimal ada semacam oase bagi kampung sekitar sini,” ujarnya.
Sebagai warga yang lahir dan besar di Bukit Duri, keterlibatan Suradi bersifat personal. Ia tumbuh besar di perkampungan sekitar dan ingin berbuat bagi warga sekitar. Melalui pendekatan yang membumi dan berbasis komunitas, TBM Bukit Duri Bercerita terus berupaya menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, dan membangun ruang aman bagi anak-anak untuk mengenal buku, merawat imajinasi, dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih luas. (Esha/NA/AS)