Belajar Langsung di Alam, SKB Jepara Perkuat Karakter Peduli Lingkungan
Jepara, Ditjen Diksi PKPLK – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jepara terus mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan nonformal. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kunjungan edukasi ke Taman Wana Aksara milik Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati yang berada di Rumah Dinas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Batealit, BKPH Muria Patiayam, Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Jumat (17/7).
Kegiatan ini diikuti peserta didik dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C yang didampingi para pamong belajar SKB Jepara. Melalui pembelajaran di luar kelas, peserta didik diajak memahami pentingnya pelestarian hutan dan lingkungan hidup secara langsung melalui berbagai aktivitas praktik.

Selama kegiatan, warga belajar memperoleh pengalaman mengenal proses pembibitan tanaman, mini arboretum, budidaya lebah madu, pengelolaan sampah plastik melalui ecobrick, budidaya ikan air tawar, hingga memanfaatkan Taman Baca Wana Aksara sebagai ruang literasi. Pembelajaran tersebut dirancang untuk memperkuat pengetahuan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Administratur KPH Pati melalui Kepala RPH Batealit, Nur Hamid, menyambut baik kunjungan edukasi tersebut. Menurutnya, kawasan Taman Wana Aksara memang dikembangkan sebagai ruang belajar yang memperkenalkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan kepada masyarakat.
"Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada SKB Jepara yang telah berkunjung ke Taman Wana Aksara RPH Batealit. Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk saling belajar mengenai upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup, khususnya bagi generasi muda," ujarnya.
Kepala SKB Jepara, Chamidi, mengatakan bahwa pembelajaran di luar kelas menjadi bagian penting dalam pendidikan nonformal karena memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna bagi warga belajar.
"Pendidikan nonformal harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui kunjungan ini, warga belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang hutan, tetapi juga memahami praktik pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah melalui ecobrick, budidaya lebah madu, dan budidaya ikan air tawar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Menurut Chamidi, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman membantu peserta didik memahami materi secara lebih utuh sekaligus menumbuhkan karakter peduli lingkungan.
Salah seorang warga belajar Program Paket C, Sela Rahmanida, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
"Dengan berkunjung ke Taman Wana Aksara RPH Batealit, kami menjadi lebih mengenal berbagai jenis dan manfaat pohon, macam-macam benih tanaman, koleksi buku di Taman Baca Wana Aksara, pembuatan ecobrick, serta budidaya ikan air tawar," ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, SKB Jepara menunjukkan bahwa pendidikan nonformal tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pembelajaran berbasis lingkungan yang memberikan pengalaman nyata kepada warga belajar. Kolaborasi dengan Perhutani menjadi salah satu praktik baik dalam memperkaya proses pembelajaran, memperkuat literasi lingkungan, sekaligus membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap kelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan. (Esha/NA/AS)